Rabu, 23 Oktober 2019

Mbokde Gelung

Mbokde Gelung

Di lereng gunung Rinjani, terdapat kampung Dadapan. Di bawah bukit tersebut hiduplah sepasang suami istri yakni pakde Gagap dan mbokde  Gelung. Ibunya pakde Gagap juga tinggal di rumah itu. Umurnya hampir 70 tahun. Di perkampungan kecil ini selalu terlihat ramai dikala pagi hari. Banyak kepala keluarga membawa pikulan berisi jerigen besar menuju lereng bukit demi mendapatkan air bersih. Di kampung ini memang jarang terdapat air bersih. Sehingga mereka harus menuju lereng bukit untuk mendapatkan air bersih tersebut. Air bersih digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari seperti memasak, minum dan mandi. 

Mbokde Gelung mempunyai 3 orang anak yang masih kecil-kecil. Karena selalu menggelung rambutnya baik di rumah maupun di luar rumah, akhirnya julukan Mbokde Gelung disematkan oleh warga sekitar untuknya. Pakde Gagap kalau berbicara memang agak sulit sehingga wargapun memanggilnya dengan sebutan tersebut. Konon, Pakde Gagap sudah mengalami kesulitan berbicara sejak kecil. Namun pasangan suami istri ini selalu hidup rukun, damai dan tenteram. Pakde Gagap bekerja sebagai buruh tani di kampung tersebut. Sedangkan Mbokde Gelung yang cekatan dan rajin bekerja selalu dimintai bantuan para warga sekitar yang membutuhkan tenaganya. Mbokde Gelung orang yang supel, ceria dan kalau berbicara selalu tidak bisa distop. Bentuk badannya yang subur, kulitnya yang hitam serta pipinya yang tembem, membuat orang yang memandangnya mempunyai kesan yang lucu terhadap  Mbokde Gelung.

Sebagai ibu yang baik, Mbokde Gelung tak pernah meninggalkan kewajibannya untuk merawat ketiga anaknya. Setiap hari sebelum bekerja di tempat orang, Mbokde Gelung selalu mengantar dan menjemput anaknya yang  sekolah di TK, selalu menyuapi anak-anaknya dan memandikan mereka semua. Itulah kehidupan sederhana dari keluarga Pakde Gagap dan Mbokde Gelung yang selalu bersyukur dengan apa yang sudah diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala Kepada mereka.

Penghasilan pakde Gagap yang pas-pasan sebagai buruh tani, membuat mbokde Gelung membanting tulang sebagai buruh cuci baju dan cuci piring. Beruntunglah, mbokde Gelung ini postur tubuhnya tinggi besar dan kuat dalam bekerja. Keunikan inilah yang menjadikan mbokde Gelung selalu dicari-cari oleh tetangga sekitar yang memerlukan tenaganya.  Melihat istrinya bekerja tanpa kenal lelah, kadang membuat terenyuh hati pakde Gelung. Dengan sigapnya, pakde Gagap naik ke pohon kelapa di belakang rumah mereka untuk mengambil beberapa kelapa yang sudah tua berikut daunnya.  Pakde Gagap sangat telaten saat membuang daun kelapa satu persatu dan mengumpulkan lidinya. Setelah terkumpul, dibuatlah sapu lidi. Kadang bisa menghasilkan 3 sampai 4 buah sapu lidi. Kemudian siap dijualnya ke tetangga sekitar. Kalau kelapa, biasanya pakde Gagap menjualnya ke pasar dekat rumah. Hasilnya lumayan untuk menambah biaya hidup sehari-hari.

Mbokde Gelung ini orangnya cekatan dalam merawat orang tua. Mertua perempuan yang tinggal seatap dengannya selalu diperhatikan semua kebutuhannya. Mulai dari menyiapkan makannya, menyucikan bajunya, menyeterikanya dll. Semua itu dilakukan mbokde Gelung dengan senang hati tanpa banyak mengeluh. Dia selalu sabar menghadapi mertuanya yang sedikit cerewet tersebut. Mbokde Gelung melakukan semua pekerjaannya dengan ikhlas.

Pada suatu hari, sepupunya mbokde Gelung yang bernama Maimunah datang dari Malaysia. Dia bekerja sebagai TKW dan sukses. Terbukti dia mempekerjakan beberapa orang untuk mengurus kebunnya. Tetapi karena Maimunah ada di Malaysia, sehingga dia tidak bisa mengawasinya dari dekat. Sepertinya, karyawan yang biasa dia percaya sudah mulai gencar membohonginya. Terbukti hasil penjualan buah salak, sawo, kedondong dan durian selalu menurun. Akhirnya Maimunah memecat semua karyawannya. Dia lebih mempercayai mbokde Gelung sebagai pengelolanya. Akhirnya, sebelum berangkat lagi ke Malaysia, Maimunah menyerahkan kebunnya untuk dirawat oleh mbokde Gelung dan suaminya. Penjualan dari hasil kebunnya, dibagi dua yaitu separuh untuk Maimunah dan separuhnya lagi untuk mbokde Gelung.

Semenjak mengelola kebun milik sepupunya, keadaan ekonomi mbokde Gelung sedikit mengalami peningkatan. Mbokde Gelung bisa membeli kalung dan gelang emas. Dua anak perempuannya juga dibelikan gelang emas. Saat hari raya Idul Fitri, mereka semua yaitu keluarga mbokde Gelung, bisa mengenakan baju baru. Mertua perempuan nya, juga dibelikan kerudung panjang warna coklat kesenangannya. Mbokde Gelung merasa bersyukur. Semua ini berkat kebaikan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mbokde Gelung tidak pernah meninggalkan shalat fardhu lima waktu. Meskipun lagi bekerja di tempat orang, jika datang waktu shalat, dia tidak segan untuk pulang ke rumah sebentar dan mengerjakan shalat.

Karena mengurus kebun tidak setiap hari dilakukan oleh mbokde Gelung dan pakde Gagap, jadi mereka masih bisa bekerja serabutan. Pakde Gagap, kadang juga diminta membersihkan kandang sapi dan kerbau oleh keluarganya. Upahnya, diberikan kepada mbokde Gelung. Pun demikian dengan mbokde Gelung yang selalu bekerja dari rumah ke rumah dengan menggunakan sepeda pancal yang sudah usang demi bisa menyekolahkan anaknya sampai di perguruan tinggi. Hasil pendapatan dari buruh cuci, sebagian ditabungnya.

Mbokde Gelung orang yang hemat dan sederhana. Terbukti dengan makanan sehari-hari mereka hanya sayur bening saja dan lauknya tempe tahu. Jarang sekali mereka bermewah-mewah dalam hal makanan. Kebetulan ketiga anak mbokde Gelung bisa menerima keadaan orangtuanya yang sangat pas-pasan. Mereka semua juga rajin membantu pekerjaan mbokde Gelung di rumah. 2 putrinya mendapat tugas membantu mencuci piring dan memasak. Sedangkan anak bungsunya yang lelaki hanya menyapu halaman rumah saja karena masih kecil. Keluarga ini selalu bahagia dengan yang mereka punya.

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Ketiga anak mbokde Gelung dan pakde Gagap sudah beranjak dewasa. Alhamdulillah dua anak perempuannya sudah menjadi sarjana. Anak perempuan pertamanya menjadi sarjana pertanian. Sedangkan anak perempuan keduanya menjadi guru bahasa Inggris. Hanya anak bungsunya yang laki-laki ini yang masih kuliah di fakultas   teknik mesin. Di masa tuanya, mbokde Gelung dan pakde Gagap berbahagia melihat ketiga anak mereka bisa menjadi orang yang berpendidikan tinggi. Semua itu berkat kegigihan dan usaha keras yang dilakukan oleh sepasang suami istri ini. Rumah yang mereka tinggali kini bukan lagi rumah gedek yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu tetapi mereka sekarang sudah bisa membangun rumah dengan dinding bata.

Kedua putri mbokde Gelung yang sudah bekerja pun, tidak lupa juga selalu memberikan uang kepada kedua orangtuanya. Meski jumlahnya tidak seberapa, tetapi buat mbokde Gelung, kedua putrinya ini dinilai sangat berbakti kepadanya. Anak bungsunya juga sering mengantarnya ke pasar dan membawakan barang hasil belanjaannya. Mbokde Gelung dan pakde Gagap merasa bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala karena sudah diberikan anak-anak yang sholeh dan sholeha. Mereka selalu berdoa agar ketiga anaknya tersebut nantinya akan sukses di dunia dan di akhirat.

#TantanganPekanTujuh_odop

Tidak ada komentar:

Posting Komentar