Rabu, 30 Oktober 2019

HIKMAH

2.    Menjadi Anak SMA

Ujian akhir SMP sudah berlalu. Lina merasa bersedih. SMA favorit yang dicita-citakan sejak masih SMP kandas ditengah jalan. Yang membuatnya semakin terpuruk adalah semua anggota geng-nya masuk SMA favorit. Meskipun teman-teman se geng-nya sudah menghiburnya tetapi tetap saja Lina tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia harus berpisah dengan teman-teman-nya tersebut.

Hari berganti hari, liburan sekolah telah usai. Lina harus masuk ke sekolah SMA negeri yang bukan diidam-idamkan-nya. Sekolah yang terletak di pinggiran kota dan ditempuh dengan naik angkutan umum. Seminggu masa orientasi sekolah, tak membuat hati Lina melunak. Ia masih menyesali kenapa ia dahulu tidak belajar mati-matian agar bisa masuk SMA favorit. Teman-teman se geng-nya begitu beruntung karena saat UNBK mendapatkan contekan jawaban dari anak yang pintar. Posisi tempat duduk Lina pada saat ujian dahulu memang tidak menguntungkan. Ia berada dideretan anak-anak yang malas belajar.

Di rumah, Lina sering menangis di kamarnya. Ibunya selalu mendekati-nya dan berbicara dari hati ke hati kepadanya. Tidaklah mudah membesarkan hati putri-nya yang sudah terlanjur patah tersebut. Ibu mana yang tidak bersedih ketika melihat putrinya berlinang air mata. Guru Matematika-nya Lina ketika SMP sempat menawarkan kepada Lina untuk masuk ke SMA favorit tersebut.

Pak Deden, begitulah biasa ia dipanggil, berpendapat bahwa ini kesempatan karena masih masa orientasi. Jadi pastilah tidak ada yang curiga jika Lina masuk ke SMA favoritnya sekarang. Beberapa hari Lina termenung memikirkan tawaran pak Deden. Hati kecilnya masih ragu-ragu antara menerima dan menolaknya. Ia berpikir bahwa ini bukan jalan yang terbaik. Kalau toh ia akhirnya bisa pindah ke SMA favoritnya, itu bukan karena kemampuannya sendiri. Alasan itulah yang akhirnya membuat Lina mengambil keputusan untuk menolak tawaran dari pak Deden. 

Pak Deden sempat kecewa dengan keputusan Lina. Lina berusaha tegar menjalankan keputusannya. Di Sekolah, masa orientasi masih berjalan. Lina yang berwajah manis, banyak juga mendapat perhatian dari kakak kelasnya. Ada satu orang cowok bernama Krisna sempat bertandang ke rumah Lina. Tetapi Lina hanya menanggapinya sebagai teman biasa saja. Lain dengan Krisna yang begitu menaruh perhatian yang besar kepada Lina.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar