Minggu, 03 November 2019

Mengenal Paguyuban Sekolah

Mengenal Paguyuban Sekolah

Sebagai walimurid di zaman sekarang dituntut untuk selalu mengakses informasi terkini yang ada di sekolah putri saya, Almira. Melalui grup whatsapp khusus walimurid, segala pengumuman terkait kegiatan belajar mengajar dibagikan di grup tersebut. Kalau tidak mempunyai gawai, bisa dipastikan kita tidak bisa mengikuti perkembangan. 

Sebagai pengurus paguyuban di kelasnya Almira, saya tidak bisa santai seperti sebelumnya. Disitu saya berperan sebagai bendahara II, yang bertugas membantu bendahara I untuk mengelola keuangan paguyuban. Tetapi kegiatan tidak terpentok hanya pada utusan keuangan saja. 

Banyak tugas pengurus paguyuban yang boleh dikata seperti harus siap kapanpun jika sekolah memerlukan bantuannya. Saya pribadi, sangat legowo jika harus bergerak cepat sebagai pengurus. Pengurus paguyuban terdiri dari ketua, wakil, sekretaris 1 &2, serta bendahara 1&2. Semua jabatan mempunyai tugas masing-masing. Pun demikian jika ada salah satu pengurus yang sibuk dengan pekerjaannya di kantor, maka bagian pengurus yang lain harus siap menghandle tugas dari paguyuban.

Dua bulan ini, di sekolahnya Almira putri saya, ada kegiatan lomba kebersihan sekolah yang mengacu kepada sekolah ramah anak. Ada juga lomba kebersihan antar kelas. Sistem penilaiannya tidak hanya tidak hanya pada kelas yang bersih saja. Banyak faktor lain yang menyertainya diantaranya kekompakan antara paguyuban dan wali kelasnya, kreatifitas siswa di dalam kelas serta alat-alat penunjang belajar di kelas pun juga masuk dalam daftar penilaian. 

Pengurus paguyuban saling bahu-membahu bekerja sama sebagai satu team untuk mempersiapkan lomba tersebut. Apa saja keperluan di dalam kelas yang masih kurang, dirapatkan atau didiskusikan pada saat pertemuan khusus pengurus paguyuban. Jika dirasa perlu barulah diskusi dilanjutkan di grup whatsapp secara online. Walimurid yang lain bisa menyumbang ide dan saran-saran sehubungan dengan persiapan lomba. Kebetulan, di kelasnya Almira, taplak meja nya kelas, sudah mulai kusam dan lusuh. Sayapun berinisiatif untuk menggantinya dengan menjahit sendiri. Kursi yang biasa diduduki bapak/ibu guru saya buatkan bantalannya supaya terasa nyaman saat duduk. 

Buat saya, tergabung dalam pengurus paguyuban adalah ajang ataupun wadah untuk belajar berorganisasi, bergaul dan bersosialisasi dengan berbagai bentuk karakter manusia. Kunci supaya tetap kompak adalah saling mengalah, mengurangi ego, tetap rendah hati dan saling membantu antar sesama anggota. Dengan begitu, Insya Allah paguyuban sekolah akan guyub rukun.

Sabtu, 02 November 2019

Biografi



Alhamdulillah, setelah sekian lama menggembleng diri untuk berlatih menulis  setiap hari, akhirnya sampailah sudah di penghujung waktu. Tinggal melanjutkan rutinitas yang sudah terbentuk agar senantiasa bisa konsisten dan istiqomah dalam berlatih menulis. Membuat Biografi adalah salah satu bagian dari tantangan dalam ODOP Batch#7 ini. Saya  tergabung dalam kelompok “Sapporo”. Di kelompok itu, ada teman saya yang bernama mba Nana. Beliau teman saya dalam komunitas Ibu Profesional (IP).

Nara sumber yang saya tulis biografinya ini adalah mba Marita Surya Ningtyas. Mba Marita ini juga ada di ODOP Batch#7. Cuma kita berbeda kelompok saja. Beliau tergabung di kelompok “Nottingham”. Karena syarat dalam membuat biografi ini haruslah dari teman yang berbeda kelompok. Tidak boleh yang dalam satu kelompok. Alhamdulillah, jadinya pas banget.

Awal mula saya mengenal mba Marita ini ketika saya mulai browsing mencari jadwal seminar parenting Abah Ihsan. Sebagai ibu, saya selalu belajar ilmu parenting dan kebetulan saya merasa cocok dengan buku-buku yang diterbitkan oleh Abah Ihsan. Selain buku-buku yang saya koleksi, ternyata di dalam blognya, mba Marita juga menuliskan ceritanya secara lengkap saat mengikuti workshop PSPA nya Abah Ihsan. Tanpa berpikir Panjang, artikel tersebut langsung saya print dan saya baca.

Diam-diam saya mengagumi gaya menulisnya mba Marita ini. Mengalir, enak dibaca dan tidak dibuat-buat. Dan mba Marita ini juga tergabung di Ibu Profesional (IP) seperti saya hehe…Cuma beliau lebih senior daripada saya. Di IP beliau pernah berperan sebagai fasilitator Matrikulasi Institut Ibu Profesional (MIIP) Bathch#6 dan  Bunda Sayang (Bunsay) batch#5. Berpengalaman menjadi blogger trainer for beginners dan divisi sosial beberapa komunitas. Oiya, disamping mengikuti blog beliau, saya juga berteman di Facebook, Whatsapp dan di Instagram. Di tahun 2017, mba Marita membuat buku Antologi berjudul “Dear Ayah Bunda, Suksesku Ada Di Ridhamu”. Sayapun berpartisipasi membeli buku tersebut karena bukunya menarik.

Mba Marita adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak bernama Ifa dan Afif. Dahulunya beliau adalah wanita yang bekerja di ranah publik dan kemuadian resign. Kegiatannya setelah resign adalah bergabung di komunitas parenting dan literasi ini. Passion beliau adalah di bidang tulis-menulis dan dimulai sejak tahun 2012. Beliau adalah lulusan Sastra Inggris di Universitas Dian Nuswantoro tahun 2007. Mba Marita juga pernah mengikuti beberapa pelatihan terkait parenting seperti PSPA, PDA, Matrikulasi, Workshop kepenulisan dan blogging. Ketrampilannya berjibun meliputi bidang blogging, content writing, influencing & motivating, team management, blog templete, arrangement for blogspot dan simple wordpress. 

Sebagai seorang penulis, banyak sekali karya-karya dari beliau yang sudah diterbitkan. Ada beberapa buku Antologi bergenre non-fiksi, antologi kisah inspiratif, antologi cerpen dan antologi puisi. Ada juga buku antologi Ibu Profesional yang salah satu kontributornya adalah mba Marita sendiri yaitu berjudul "Jejak Langkah Bunda Sayang" yang dirilis tahun 2019. Saya sudah memiliki buku tersebut.   Beberapa medsos milik mba Marita yaitu :

Facebook : Marita Ningtyas

    Marita’s Palace


Blog Pribadi : http://www.maritaningtyas.com/


IG : @maritaningtyas


Yang saya senang dari beliau ini adalah, beliau selalu saja membagikan oleh-oleh berupa ilmu bermanfaat yang kemudian dibagikan di Whatsapp, Facebook maupun di Instagram-nya. Tidak itu saja, beliau ini juga sering menjadi narasumber dalam mengisi kajian-kajian islami maupun parenting. Salut sama beliau yang selalu bisa kompak dengan keluarga bahagianya. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Mba Marita yang sudah bersedia memberikan waktunya dan mengizinkan saya membagikan biografinya di blog saya. Jazakillahu khairan mba Marita..

 

            

Jumat, 01 November 2019

HIKMAH

5.    Kegagalan Adalah Awal Dari Kesuksesan

Saat ibunya membuka Raport milik Lina, hasil semua nilai Lina memang tidak memuaskan. Ibunya Lina bersikap sangat bijaksana dan memberikan motivasi kepada Lina agar di semester depan Lina bisa memperbaiki nilanya yang kurang tersebut. Putus asa dan bersedih terlalu lama bukan solusinya. Masih ada kesempatan untuk mengejar nilai, “begitulah nasihat Ibu kepada Lina.”Lina hanya mengangguk pelan menerima nasihat dari ibunya. Perlahan-lahan, ia menutup Raport bersampul oranye tersebut.

Di semester pertama, Lina mendapat peringkat terakhir dari 43 siswa. Tetapi Lina tetap tegar. Pak Tarno yang membaca raut wajah kesedihan di wajah muridnya tersebut, mencoba mendekatinya. Beliau berkata kepada Lina agar ia tidak usah minder dengan hasil nilai Raportnya tersebut. Jadilah anak yang rendah hati saja, jangan rendah diri. Begitulah pesan yang disampaikan pak Tarno kepada Lina. Lina menggangguk saja sambal tersenyum kepada gurunya tersebut.

Lina menjadi anak yang rajin beribadah shalat lima waktu, ditambah dengan shalat tahajud di sepertiga malam. Ibunya menuntun Lina agar kembali ke jalan yang benar dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Lina juga rutin mengaji secara privat bersama adik perempuannya dengan dibimbing oleh ustad yang dipanggil ibunya di rumah. Selain berdoa dengan khusyuk, Lina juga belajar dengan tekun disaat pagi, siang dan malam hari. Semua waktunya diisinya dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat.

         Alhamdulillah Lina sudah mulai menyenangi dengan lingkungan, teman-teman dan para guru di sekolahnya. Ia mulai kerasan di sekolah. Bapak dan ibu gurunya Lina banyak membantu Lina agar semangat lagi dalam belajar. Diberinya kesempatan Lina untuk mengulang ujian mata pelajaran yang nilainya kurang agar menjadi bagus. Hari-hari Lina yang padat, membuat ayah dan ibunya Lina memberikan makanan yang bergizi di rumah. Meski sudah sembuh dari stres, Lina masih diwajibkan control dan meminum obat agar ke depannya tidak kambuh lagi. Sehingga Lina bisa sembuh total dari stres-nya tersebut.

         Selain Nisa, Zora adalah sahabat Lina saat di SMA. Zora anak guru di sekolah itu. Parasnya manis dan postur tubuhnya tinggi semampai seperti Lina. Semenjak prestasi belajarnya di sekolah menurun, Lina memutuskan hubungan dengan cowoknya si Cecep. Lina Hanya ingin berteman baik saja dengannya. Fokusnya hanya untuk belajar, belajar dan belajar. Tidak lebih dari itu. Untungnya si Cecep bisa menerima keputusan Lina dengan lapang dada.

         Agar tidak bersedih lagi dan jatuh sakit, ibunya Lina membelikan apa saja yang diminta oleh Lina asalkan permintaan itu wajar dan sesuai kemampuan. Lina dibelikan jaket jeans tebal yang bagus, buah-buahan dari bahan kayu yang bagus dan diberikan fasilitas berlangganan majalah remaja seperti Aneka yess atau Gadis. Semua itu dilakukan ibunya Lina dengan penuh kasih sayang. Berharap putrinya bisa merasakan kasih sayang kedua orangtuanya tersebut. Membaca majalah remaja, hanya dilakukan oleh Lina disaat dia mulai jenuh dalam belajar.

         Sehari sebelum penerimaan Raport semester kedua, ibunya Lina mendatangi rumah pak Tarno untuk menanyakan perkembangan putrinya tersebut. Pak Tarno dengan ramah mempersilakan ibunya Lina untuk duduk di ruang tamu. Sayangnya perbincangan sesaat itu, tidak membuahkan hasil yang melegakan. Pak tarno bungkam seribu basa dan menyarankan ibunya Lina untuk melihat sendiri nilai Raport Lina esok hari. Padahal maksud ibunya Lina, ibunya hanya ingin bertanya saja apakah Lina naik kelas atau tidak. Tetapi pak Tarno bersikeras tidak mau berkata sepatah katapun. Dengan wajah sedikit muram ibunya Lina berpamitan pulang dan memilih bersabar sambal berdoa di rumah agar putrinya naik kelas.

         Hari itu penerimaan Raport semester kedua, Lina Bersama ibunda-nya datang ke sekolah memenuhi panggilan pak Tarno. Di dalam kelas, rupanya sudah berkumpul beberapa wali murid. Seperti tradisi di sekolah itu. Disaat Penerimaan raport, murid-murid berada di luar sekolah menanti orang tua mereka masing-masing selesai mengambil Raport dan menerima pengarahan dariwalikelas masing-masing. Siswa kelas 10 di sekolah itu berjumlah hampir 350 orang. Terdiri dari delapan kelas.

         Tiba-tiba saja, saat keluar dari pintu kelas, Lina melihat wajah ibunya nampak tersenyum sumringah dan bahagia. Lina segera mendekati ibunya dan menanyakan bagaimana nilai Raportnya itu. Alhamdulillah, Lina naik kelas ke kelas 11 dan mendapat peringat yang memuaskan yaitu peringkat sepuluh besar. Pak Tarno memberitahukan berita gembira tersebut kepada semua murid-muridnya. Semua teman-teman Lina bersalaman kepadanya untuk memberikan ucapan selamat kepada Lina. Kepercayaan dan harga diri Lina akhirnya bangkit kembali. Semua kejadian demi kejadian telah memberikan banyak hikmah dalam kehidupan Lina. Lina menjadi anak yang shalehah dan taat sama orang tua. Setiap manusia di dunia ini, pasti akan mengalami ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hanya hamba yang menjadikan shalat dan sabar sebagai penolongnya, yang akan meraih kemenangan.

~ The end ~

HIKMAH

4.    Bangkit Dari Kegagalan

Setelah satu bulan lamanya Lina absen di sekolahnya, ia mulai  kembali ke sekolah lagi seperti biasanya. Ketika sampai di pintu kelas, Lina disambut baik oleh semua teman-temannya. Padahal semua teman-teman Lina mengetahui kalua Lina sakit stres tetapi Alhamdulillah tidak ada satupun yang mengejek dan menghinanya. Salah satu diantaranya adalah Nisa teman sebangkunya yang juga temannya SMP dulu tetapi berbeda kelas. Nisa seorang yang cantik tetapi agak gemuk. Dialah salah satu teman cewek yang dekat dengan Lina saat ini.

Segala ketertinggalannya terhadap semua mata pelajaran di sekolah selama hampir satu bulan lamanya ditebus Lina dengan belajar lebih keras. Saat Lina pulang dari rumah sakit, Nisalah yang sering datang menjenguk Lina di rumah. Tak banyak teman Lina yang menjenguk dikarenakan saat Lina sakit masih di awal masa orientasi sekolah. Jadi banyak teman-temannya Lina yang belum mengenal Lina secara dekat.

Di awal adaptasi Lina dengan pelajaran, dia banyak di cari oleh bapak maupun ibu gurunya untuk mengikuti beberapa ulangan yang belum Lina kerjakan. Hampir setiap hari jadwal Lina padat dengan mengikuti berbagai ulangan harian. Mulai dari pelajaran Bahasa Indonesia, Fisika, Kimia, Matematika, Sejarah dll. Saat teman-teman Lina pada santai di rumah menonton televisi, Lina di rumahnya tidak berhenti belajar agar tidak ketinggalan pelajaran.

Ayah Lina yang juga sangat menyayangi putrinya itu, juga merasa bersyukur bahwa putrinya sudah mulai sehat fisik dan jiwanya. Saat menderita Stres, tubuh Lina terlihat kurus dan wajahnya sayu. Ayahnya membelikan sebuah buku untuk Lina. Bukunya tidak terlalu tebal dan seperti buklet saja. Judulnya Adalah “Mengapa Aku Stres?”. Ayahnya banyak berharap agar Lina mengisi kegiatan kosongnya dengan membaca buku dari pada menyendiri dan melamun.

Waktu berlalu hingga tiba saat penerimaan Raport semester pertama. Pak Tarno mengundang semua walimurid untuk datang ke sekolah mengambil Raport putra putri mereka. Lina datang Bersama ibunda tercinta. Karena selama Lina sakit, ibu Lina jadi akrab dan kenal dekat dengan Pak Tarno. Sehingga saat bertemu di sekolah, ibunya Lina juga menanyakan keadaan putrinya di sekolah pasca sakit.

 

Kamis, 31 Oktober 2019

HIKMAH

3.    Halusinasi

Di saat masa orientasi sudah hampir selesai. Ada seorang cowok berwajah ganteng yang naksir sama Lina. Semula Lina hanya menaggapinya biasa-biasa saja. Mereka berdua akhirnya dekat  disebabkan karena berada dalam satu kelas. Tetapi sayangnya, ibunya Lina kurang menyukai Cowoknya Lina tersebut. Terbukti, baru di awal masa sekolah, Cecep begitu nama cowoknya Lina tersebut, sudah sering mombolos sekolah.

Meskipun sudah mempunyai teman dekat yang baik kepadanya, Lina masih saja belum bisa melupakan teman-teman se geng-nya. Kesedihan yang terus menumpuk membuat Lina semakin terpuruk. Ia sering melamun baik di sekolah maupun di rumah. Ayah dan ibunya tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi terus melakukan pendekatan kepada Lina. Belum dua minggu belajar di bangku SMA, Lina rupanya sudah tidak mempunyai semangat berangkat ke sekolah.

Di sekolah, Lina tidak bisa fokus dan belajar dengan baik. Nilai-nilai ulangannya anjlok secara drastis. Bapak walikelas Lina yaitu Bapak Tarno Adi Wasono atau biasa dipanggil dengan sebutan pak Tarno merasa was-was dengan nilai-nilai ualangan-nya Lina. Kekecewaan demi kekecewaan yang dialami oleh Lina, akhirnya membuat Lina menjadi down. Lina menderita stres ringan yang disebut dengan istilah halusinasi. 

Lina akhirnya harus menjalani perawatan secara intensif di RSJ. Beruntunglah ibunya belum terlambat membawanya ke dokter psikiater. Jadi keadaan Lina belumlah parah dan masih bisa ditangani. Lina merasa gelisah di dalam kamar perawatan tersebut. Ia menghiba memohon kepada ibunya agar diperbolehkan pulang. Keadaan Lina menjadi tenang dan tertidur setelah mendapat suntikan penenang dari dokter. 

Besok paginya keadaan Lina sudah lebih baik. Ibunya mengajak Lina jalan-jalan berkeliling rumah sakit. Saat melewati sebuah ruangan besar, pandangan Lina tertuju dengan aktifitas di dalam ruangan tersebut. Banyak pasien penyakit jiwa yang masih dalam perawatan dan tidak begitu parah diberikan bekal ketrampian membuat bunga.

Hampir setengah jam Lina dan ibunya berdiri di luar ruangan tersebut. Ibunya setia menemani Lina, putri kesayangan-nya itu. Selama dalam masa perawatan, Lina diberikan beberapa obat yang harus diminumnya. Ada juga obat penenang agar hati Lina menjadi tenang, tidak gelisah dan suka melamun. Terkadang halusinasi yang dialami oleh Lina bisa membuatnya suka tersenyum  atau tertawa sendiri. Penyebabnya seolah-olah ia seperti ada kejadian lucu di dalam pikirannya yang membuatnya tersenyum maupun tertawa.

Sudah hampir tiga minggu lamanya Lina dirawat di rumah sakit. Dokter Psikiater Lina yaitu dr. Mawardi, akhirnya memperbolehkan Lina pulang. Dokter Mawardi bahkan berkata kepada Ibunya Lina bahwa kesembuhan Lina ini adalah suatu keajaiban. Lina sembuh dari stres setelah dirawat selama tiga minggu. Ibunya merasa bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan beliau sempat berpikir, andai ia tidak segera membawa Lina ke dokter ahli jiwa tersebut, pastilah keadaan Lina tidaklah seperti sekarang ini, yang sudah sembuh total dari stres-nya. Lina bisa saja sudah menjadi orang gila. Naudzubillahi , begitulah gumam si ibu.

Rabu, 30 Oktober 2019

HIKMAH

2.    Menjadi Anak SMA

Ujian akhir SMP sudah berlalu. Lina merasa bersedih. SMA favorit yang dicita-citakan sejak masih SMP kandas ditengah jalan. Yang membuatnya semakin terpuruk adalah semua anggota geng-nya masuk SMA favorit. Meskipun teman-teman se geng-nya sudah menghiburnya tetapi tetap saja Lina tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia harus berpisah dengan teman-teman-nya tersebut.

Hari berganti hari, liburan sekolah telah usai. Lina harus masuk ke sekolah SMA negeri yang bukan diidam-idamkan-nya. Sekolah yang terletak di pinggiran kota dan ditempuh dengan naik angkutan umum. Seminggu masa orientasi sekolah, tak membuat hati Lina melunak. Ia masih menyesali kenapa ia dahulu tidak belajar mati-matian agar bisa masuk SMA favorit. Teman-teman se geng-nya begitu beruntung karena saat UNBK mendapatkan contekan jawaban dari anak yang pintar. Posisi tempat duduk Lina pada saat ujian dahulu memang tidak menguntungkan. Ia berada dideretan anak-anak yang malas belajar.

Di rumah, Lina sering menangis di kamarnya. Ibunya selalu mendekati-nya dan berbicara dari hati ke hati kepadanya. Tidaklah mudah membesarkan hati putri-nya yang sudah terlanjur patah tersebut. Ibu mana yang tidak bersedih ketika melihat putrinya berlinang air mata. Guru Matematika-nya Lina ketika SMP sempat menawarkan kepada Lina untuk masuk ke SMA favorit tersebut.

Pak Deden, begitulah biasa ia dipanggil, berpendapat bahwa ini kesempatan karena masih masa orientasi. Jadi pastilah tidak ada yang curiga jika Lina masuk ke SMA favoritnya sekarang. Beberapa hari Lina termenung memikirkan tawaran pak Deden. Hati kecilnya masih ragu-ragu antara menerima dan menolaknya. Ia berpikir bahwa ini bukan jalan yang terbaik. Kalau toh ia akhirnya bisa pindah ke SMA favoritnya, itu bukan karena kemampuannya sendiri. Alasan itulah yang akhirnya membuat Lina mengambil keputusan untuk menolak tawaran dari pak Deden. 

Pak Deden sempat kecewa dengan keputusan Lina. Lina berusaha tegar menjalankan keputusannya. Di Sekolah, masa orientasi masih berjalan. Lina yang berwajah manis, banyak juga mendapat perhatian dari kakak kelasnya. Ada satu orang cowok bernama Krisna sempat bertandang ke rumah Lina. Tetapi Lina hanya menanggapinya sebagai teman biasa saja. Lain dengan Krisna yang begitu menaruh perhatian yang besar kepada Lina.

 

Selasa, 29 Oktober 2019

HIKMAH

1.    Geng Yang Kreatif

Marlina adalah gadis remaja berusia 15 tahun. Dia seorang pelajar SMP kelas 9. Perangainya lincah, humoris, supel dan ramah kepada semua temannya. Tidak heran jika Lina, panggilan dia ketika di sekolah, mempunyai banyak teman. Di kelas 9, Lina mempunyai geng  teman akrab yang diberi nama Geng Kreatif. Anggota geng-nya ada 6 orang, diantaranya bernama Lea, Kety, Wina, Rini, Ening, Sisi.

Lina sendiri anak orang berkecukupan. Ayahnya seorang pegawai Pemda. Sedangkan ibunya adalah guru SMP. Lina anak pertama dari 3 bersaudara. Wajah Lina sangat manis dengan kulit sawo matang. Ibunya kadang mengeluhkan pertemanan Lina dengan teman-teman segeng-nya tersebut. Karena tidak semuanya berperilaku baik. Wina misalnya. Penampilannya sangat arogan. Karena itu, ibunya Lina kurang suka pada Wina.

Tetapi kebetulan hanya Wina saja yang paling akrab dengan Lina. Meski arogan, tetapi buat Lina, Wina adalah teman yang baik. Jika ia kesulitan dengan PR nya, Winalah yang selama ini menjadi tempatnya mencari solusi. Mereka berdua sangat akrab ketika di sekolah. Hanya saja ketika duduk di kelas, Lina lebih memilih duduk bersama Lea. Lea ini gadis berkulit putih dan berambut sasak. Tetapi Lea ini sedikit pendiam.

Suatu saat Lea ini jatuh cinta pada seorang cowok bernama Dude anak kelas sebelah. Dude seorang cowok kece dan berkulit putih. Sayang sekali Dude tidak mempunyai perasaan apa-apa kepada Lea. Berbeda dengan Lea yang selalu mencuri-curi pandang kepada Dude jika jam istirahat. Sebagai teman sebangkunya Lea, Lina selalu menyarankan kepada Lea agar memilih cowok lain saja yang lebih mencintai Lea. Tetapi rupanya Lea tetap bersikukuh menunggu Dude.

Saat UNBK sudah semakin dekat, Lina dan Lea sekarang lebih fokus kepada pelajaran. Pada hari Minggu, geng kreatif yang terdiri dari 7 orang tersebut, berkumpul bareng di rumahnya Lea. Mereka belajar Bersama. Pelajaran yang paling membuat geng ini pusing tujuh keliling adalah matematika. Hanya si Kety saja yang nilainya lumayan bagus. Kety memang anak yang cerdas. Meskipun pernah absen selama satu bulan ke sekolah, tetapi nilainya masih tetap bagus dan menjadi juara.