Daftar Blog Saya
Minggu, 03 November 2019
Mengenal Paguyuban Sekolah
Sabtu, 02 November 2019
Biografi
Alhamdulillah, setelah sekian lama menggembleng diri untuk berlatih menulis setiap hari, akhirnya sampailah sudah di penghujung waktu. Tinggal melanjutkan rutinitas yang sudah terbentuk agar senantiasa bisa konsisten dan istiqomah dalam berlatih menulis. Membuat Biografi adalah salah satu bagian dari tantangan dalam ODOP Batch#7 ini. Saya tergabung dalam kelompok “Sapporo”. Di kelompok itu, ada teman saya yang bernama mba Nana. Beliau teman saya dalam komunitas Ibu Profesional (IP).
Nara sumber yang saya tulis biografinya ini adalah mba Marita Surya Ningtyas. Mba Marita ini juga ada di ODOP Batch#7. Cuma kita berbeda kelompok saja. Beliau tergabung di kelompok “Nottingham”. Karena syarat dalam membuat biografi ini haruslah dari teman yang berbeda kelompok. Tidak boleh yang dalam satu kelompok. Alhamdulillah, jadinya pas banget.
Awal mula saya mengenal mba Marita ini ketika saya mulai browsing mencari jadwal seminar parenting Abah Ihsan. Sebagai ibu, saya selalu belajar ilmu parenting dan kebetulan saya merasa cocok dengan buku-buku yang diterbitkan oleh Abah Ihsan. Selain buku-buku yang saya koleksi, ternyata di dalam blognya, mba Marita juga menuliskan ceritanya secara lengkap saat mengikuti workshop PSPA nya Abah Ihsan. Tanpa berpikir Panjang, artikel tersebut langsung saya print dan saya baca.
Diam-diam saya mengagumi gaya menulisnya mba Marita ini. Mengalir, enak dibaca dan tidak dibuat-buat. Dan mba Marita ini juga tergabung di Ibu Profesional (IP) seperti saya hehe…Cuma beliau lebih senior daripada saya. Di IP beliau pernah berperan sebagai fasilitator Matrikulasi Institut Ibu Profesional (MIIP) Bathch#6 dan Bunda Sayang (Bunsay) batch#5. Berpengalaman menjadi blogger trainer for beginners dan divisi sosial beberapa komunitas. Oiya, disamping mengikuti blog beliau, saya juga berteman di Facebook, Whatsapp dan di Instagram. Di tahun 2017, mba Marita membuat buku Antologi berjudul “Dear Ayah Bunda, Suksesku Ada Di Ridhamu”. Sayapun berpartisipasi membeli buku tersebut karena bukunya menarik.
Mba Marita adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak bernama Ifa dan Afif. Dahulunya beliau adalah wanita yang bekerja di ranah publik dan kemuadian resign. Kegiatannya setelah resign adalah bergabung di komunitas parenting dan literasi ini. Passion beliau adalah di bidang tulis-menulis dan dimulai sejak tahun 2012. Beliau adalah lulusan Sastra Inggris di Universitas Dian Nuswantoro tahun 2007. Mba Marita juga pernah mengikuti beberapa pelatihan terkait parenting seperti PSPA, PDA, Matrikulasi, Workshop kepenulisan dan blogging. Ketrampilannya berjibun meliputi bidang blogging, content writing, influencing & motivating, team management, blog templete, arrangement for blogspot dan simple wordpress.
Sebagai seorang penulis, banyak sekali karya-karya dari beliau yang sudah diterbitkan. Ada beberapa buku Antologi bergenre non-fiksi, antologi kisah inspiratif, antologi cerpen dan antologi puisi. Ada juga buku antologi Ibu Profesional yang salah satu kontributornya adalah mba Marita sendiri yaitu berjudul "Jejak Langkah Bunda Sayang" yang dirilis tahun 2019. Saya sudah memiliki buku tersebut. Beberapa medsos milik mba Marita yaitu :
Facebook : Marita Ningtyas
Marita’s Palace
Blog Pribadi : http://www.maritaningtyas.com/
IG : @maritaningtyas
Yang saya senang dari beliau ini adalah, beliau selalu saja membagikan oleh-oleh berupa ilmu bermanfaat yang kemudian dibagikan di Whatsapp, Facebook maupun di Instagram-nya. Tidak itu saja, beliau ini juga sering menjadi narasumber dalam mengisi kajian-kajian islami maupun parenting. Salut sama beliau yang selalu bisa kompak dengan keluarga bahagianya. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Mba Marita yang sudah bersedia memberikan waktunya dan mengizinkan saya membagikan biografinya di blog saya. Jazakillahu khairan mba Marita..
Jumat, 01 November 2019
HIKMAH
5. Kegagalan Adalah Awal Dari Kesuksesan
Saat ibunya membuka Raport milik Lina, hasil semua nilai Lina memang tidak memuaskan. Ibunya Lina bersikap sangat bijaksana dan memberikan motivasi kepada Lina agar di semester depan Lina bisa memperbaiki nilanya yang kurang tersebut. Putus asa dan bersedih terlalu lama bukan solusinya. Masih ada kesempatan untuk mengejar nilai, “begitulah nasihat Ibu kepada Lina.”Lina hanya mengangguk pelan menerima nasihat dari ibunya. Perlahan-lahan, ia menutup Raport bersampul oranye tersebut.
Di semester pertama, Lina mendapat peringkat terakhir dari 43 siswa. Tetapi Lina tetap tegar. Pak Tarno yang membaca raut wajah kesedihan di wajah muridnya tersebut, mencoba mendekatinya. Beliau berkata kepada Lina agar ia tidak usah minder dengan hasil nilai Raportnya tersebut. Jadilah anak yang rendah hati saja, jangan rendah diri. Begitulah pesan yang disampaikan pak Tarno kepada Lina. Lina menggangguk saja sambal tersenyum kepada gurunya tersebut.
Lina menjadi anak yang rajin beribadah shalat lima waktu, ditambah dengan shalat tahajud di sepertiga malam. Ibunya menuntun Lina agar kembali ke jalan yang benar dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Lina juga rutin mengaji secara privat bersama adik perempuannya dengan dibimbing oleh ustad yang dipanggil ibunya di rumah. Selain berdoa dengan khusyuk, Lina juga belajar dengan tekun disaat pagi, siang dan malam hari. Semua waktunya diisinya dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat.
Alhamdulillah Lina sudah mulai menyenangi dengan lingkungan, teman-teman dan para guru di sekolahnya. Ia mulai kerasan di sekolah. Bapak dan ibu gurunya Lina banyak membantu Lina agar semangat lagi dalam belajar. Diberinya kesempatan Lina untuk mengulang ujian mata pelajaran yang nilainya kurang agar menjadi bagus. Hari-hari Lina yang padat, membuat ayah dan ibunya Lina memberikan makanan yang bergizi di rumah. Meski sudah sembuh dari stres, Lina masih diwajibkan control dan meminum obat agar ke depannya tidak kambuh lagi. Sehingga Lina bisa sembuh total dari stres-nya tersebut.
Selain Nisa, Zora adalah sahabat Lina saat di SMA. Zora anak guru di sekolah itu. Parasnya manis dan postur tubuhnya tinggi semampai seperti Lina. Semenjak prestasi belajarnya di sekolah menurun, Lina memutuskan hubungan dengan cowoknya si Cecep. Lina Hanya ingin berteman baik saja dengannya. Fokusnya hanya untuk belajar, belajar dan belajar. Tidak lebih dari itu. Untungnya si Cecep bisa menerima keputusan Lina dengan lapang dada.
Agar tidak bersedih lagi dan jatuh sakit, ibunya Lina membelikan apa saja yang diminta oleh Lina asalkan permintaan itu wajar dan sesuai kemampuan. Lina dibelikan jaket jeans tebal yang bagus, buah-buahan dari bahan kayu yang bagus dan diberikan fasilitas berlangganan majalah remaja seperti Aneka yess atau Gadis. Semua itu dilakukan ibunya Lina dengan penuh kasih sayang. Berharap putrinya bisa merasakan kasih sayang kedua orangtuanya tersebut. Membaca majalah remaja, hanya dilakukan oleh Lina disaat dia mulai jenuh dalam belajar.
Sehari sebelum penerimaan Raport semester kedua, ibunya Lina mendatangi rumah pak Tarno untuk menanyakan perkembangan putrinya tersebut. Pak Tarno dengan ramah mempersilakan ibunya Lina untuk duduk di ruang tamu. Sayangnya perbincangan sesaat itu, tidak membuahkan hasil yang melegakan. Pak tarno bungkam seribu basa dan menyarankan ibunya Lina untuk melihat sendiri nilai Raport Lina esok hari. Padahal maksud ibunya Lina, ibunya hanya ingin bertanya saja apakah Lina naik kelas atau tidak. Tetapi pak Tarno bersikeras tidak mau berkata sepatah katapun. Dengan wajah sedikit muram ibunya Lina berpamitan pulang dan memilih bersabar sambal berdoa di rumah agar putrinya naik kelas.
Hari itu penerimaan Raport semester kedua, Lina Bersama ibunda-nya datang ke sekolah memenuhi panggilan pak Tarno. Di dalam kelas, rupanya sudah berkumpul beberapa wali murid. Seperti tradisi di sekolah itu. Disaat Penerimaan raport, murid-murid berada di luar sekolah menanti orang tua mereka masing-masing selesai mengambil Raport dan menerima pengarahan dariwalikelas masing-masing. Siswa kelas 10 di sekolah itu berjumlah hampir 350 orang. Terdiri dari delapan kelas.
Tiba-tiba saja, saat keluar dari pintu kelas, Lina melihat wajah ibunya nampak tersenyum sumringah dan bahagia. Lina segera mendekati ibunya dan menanyakan bagaimana nilai Raportnya itu. Alhamdulillah, Lina naik kelas ke kelas 11 dan mendapat peringat yang memuaskan yaitu peringkat sepuluh besar. Pak Tarno memberitahukan berita gembira tersebut kepada semua murid-muridnya. Semua teman-teman Lina bersalaman kepadanya untuk memberikan ucapan selamat kepada Lina. Kepercayaan dan harga diri Lina akhirnya bangkit kembali. Semua kejadian demi kejadian telah memberikan banyak hikmah dalam kehidupan Lina. Lina menjadi anak yang shalehah dan taat sama orang tua. Setiap manusia di dunia ini, pasti akan mengalami ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hanya hamba yang menjadikan shalat dan sabar sebagai penolongnya, yang akan meraih kemenangan.
~ The end ~
HIKMAH
4. Bangkit Dari Kegagalan
Setelah satu bulan lamanya Lina absen di sekolahnya, ia mulai kembali ke sekolah lagi seperti biasanya. Ketika sampai di pintu kelas, Lina disambut baik oleh semua teman-temannya. Padahal semua teman-teman Lina mengetahui kalua Lina sakit stres tetapi Alhamdulillah tidak ada satupun yang mengejek dan menghinanya. Salah satu diantaranya adalah Nisa teman sebangkunya yang juga temannya SMP dulu tetapi berbeda kelas. Nisa seorang yang cantik tetapi agak gemuk. Dialah salah satu teman cewek yang dekat dengan Lina saat ini.
Segala ketertinggalannya terhadap semua mata pelajaran di sekolah selama hampir satu bulan lamanya ditebus Lina dengan belajar lebih keras. Saat Lina pulang dari rumah sakit, Nisalah yang sering datang menjenguk Lina di rumah. Tak banyak teman Lina yang menjenguk dikarenakan saat Lina sakit masih di awal masa orientasi sekolah. Jadi banyak teman-temannya Lina yang belum mengenal Lina secara dekat.
Di awal adaptasi Lina dengan pelajaran, dia banyak di cari oleh bapak maupun ibu gurunya untuk mengikuti beberapa ulangan yang belum Lina kerjakan. Hampir setiap hari jadwal Lina padat dengan mengikuti berbagai ulangan harian. Mulai dari pelajaran Bahasa Indonesia, Fisika, Kimia, Matematika, Sejarah dll. Saat teman-teman Lina pada santai di rumah menonton televisi, Lina di rumahnya tidak berhenti belajar agar tidak ketinggalan pelajaran.
Ayah Lina yang juga sangat menyayangi putrinya itu, juga merasa bersyukur bahwa putrinya sudah mulai sehat fisik dan jiwanya. Saat menderita Stres, tubuh Lina terlihat kurus dan wajahnya sayu. Ayahnya membelikan sebuah buku untuk Lina. Bukunya tidak terlalu tebal dan seperti buklet saja. Judulnya Adalah “Mengapa Aku Stres?”. Ayahnya banyak berharap agar Lina mengisi kegiatan kosongnya dengan membaca buku dari pada menyendiri dan melamun.
Waktu berlalu hingga tiba saat penerimaan Raport semester pertama. Pak Tarno mengundang semua walimurid untuk datang ke sekolah mengambil Raport putra putri mereka. Lina datang Bersama ibunda tercinta. Karena selama Lina sakit, ibu Lina jadi akrab dan kenal dekat dengan Pak Tarno. Sehingga saat bertemu di sekolah, ibunya Lina juga menanyakan keadaan putrinya di sekolah pasca sakit.