Kamis, 31 Oktober 2019

HIKMAH

3.    Halusinasi

Di saat masa orientasi sudah hampir selesai. Ada seorang cowok berwajah ganteng yang naksir sama Lina. Semula Lina hanya menaggapinya biasa-biasa saja. Mereka berdua akhirnya dekat  disebabkan karena berada dalam satu kelas. Tetapi sayangnya, ibunya Lina kurang menyukai Cowoknya Lina tersebut. Terbukti, baru di awal masa sekolah, Cecep begitu nama cowoknya Lina tersebut, sudah sering mombolos sekolah.

Meskipun sudah mempunyai teman dekat yang baik kepadanya, Lina masih saja belum bisa melupakan teman-teman se geng-nya. Kesedihan yang terus menumpuk membuat Lina semakin terpuruk. Ia sering melamun baik di sekolah maupun di rumah. Ayah dan ibunya tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi terus melakukan pendekatan kepada Lina. Belum dua minggu belajar di bangku SMA, Lina rupanya sudah tidak mempunyai semangat berangkat ke sekolah.

Di sekolah, Lina tidak bisa fokus dan belajar dengan baik. Nilai-nilai ulangannya anjlok secara drastis. Bapak walikelas Lina yaitu Bapak Tarno Adi Wasono atau biasa dipanggil dengan sebutan pak Tarno merasa was-was dengan nilai-nilai ualangan-nya Lina. Kekecewaan demi kekecewaan yang dialami oleh Lina, akhirnya membuat Lina menjadi down. Lina menderita stres ringan yang disebut dengan istilah halusinasi. 

Lina akhirnya harus menjalani perawatan secara intensif di RSJ. Beruntunglah ibunya belum terlambat membawanya ke dokter psikiater. Jadi keadaan Lina belumlah parah dan masih bisa ditangani. Lina merasa gelisah di dalam kamar perawatan tersebut. Ia menghiba memohon kepada ibunya agar diperbolehkan pulang. Keadaan Lina menjadi tenang dan tertidur setelah mendapat suntikan penenang dari dokter. 

Besok paginya keadaan Lina sudah lebih baik. Ibunya mengajak Lina jalan-jalan berkeliling rumah sakit. Saat melewati sebuah ruangan besar, pandangan Lina tertuju dengan aktifitas di dalam ruangan tersebut. Banyak pasien penyakit jiwa yang masih dalam perawatan dan tidak begitu parah diberikan bekal ketrampian membuat bunga.

Hampir setengah jam Lina dan ibunya berdiri di luar ruangan tersebut. Ibunya setia menemani Lina, putri kesayangan-nya itu. Selama dalam masa perawatan, Lina diberikan beberapa obat yang harus diminumnya. Ada juga obat penenang agar hati Lina menjadi tenang, tidak gelisah dan suka melamun. Terkadang halusinasi yang dialami oleh Lina bisa membuatnya suka tersenyum  atau tertawa sendiri. Penyebabnya seolah-olah ia seperti ada kejadian lucu di dalam pikirannya yang membuatnya tersenyum maupun tertawa.

Sudah hampir tiga minggu lamanya Lina dirawat di rumah sakit. Dokter Psikiater Lina yaitu dr. Mawardi, akhirnya memperbolehkan Lina pulang. Dokter Mawardi bahkan berkata kepada Ibunya Lina bahwa kesembuhan Lina ini adalah suatu keajaiban. Lina sembuh dari stres setelah dirawat selama tiga minggu. Ibunya merasa bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan beliau sempat berpikir, andai ia tidak segera membawa Lina ke dokter ahli jiwa tersebut, pastilah keadaan Lina tidaklah seperti sekarang ini, yang sudah sembuh total dari stres-nya. Lina bisa saja sudah menjadi orang gila. Naudzubillahi , begitulah gumam si ibu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar