Sabtu, 14 September 2019

Berikhtiar Mengurangi Sampah Plastik

Saya mulai mengenal istilah zerowaste pada awal tahun 2019. Sebelumnya belum begitu paham apa saja kegiatan-kegiatan yang dianjurkan di dalam komunitas tersebut. Saya bergabung di grup Whatsapp Rumbel Zerowaste Ibu Profesional Surabaya Raya. Jadi posisi saya saat ini adalah sebagai pemula dan masih banyak belajar lagi kepada yang lebih berpengalaman. Sebelum bergabung di grup Rumbel Zerowaste, saya masuk di kelas laskar dulu. Disitu ada materi yang saya peroleh yaitu tentang pengetahuan zerowaste, cegah, olah dan pilah. Setiap pekan pasti ada tugas atau challengenya. Setelah materi selesai, tidak serta merta langsung menggugah hati ini untuk segera mempraktikkannya. Ada saja kendala dari diri sendiri yang saya alami. Mulai dari rasa malas untuk memulai dan rasa minder karena takut gagal selalu saja datang menghadang niat baik saya. Tetapi pelan tapi pasti, saya mulai bergerak untuk meninggalkan posisi sekarang yaitu di zona aman. Prinsipnya jika tekad dalam diri sudah bulat, pastilah niat baik saya akan dipermudah dengan sendirinya oleh Allah Subhanahun Wa Ta'ala.

Berpartisipasi menyelamatkan bumi adalah usaha yang terbaik. Karena siapa lagi kalau bukan kita para penghuninya. Masih lekat dalam ingatan saya ketika melihat tayangan di medsos tentang kematian ikan paus dan setelah dibuka perutnya terdapat banyak sekali sampah plastik. Sungguh miris rasanya hati ini dan membuat saya semakin sadar untuk segera berzerowaste. Upaya yang saya lakukan untuk mengurangi sampah plastik adalah dengan membuat tas kain sendiri. Alhamdulillah, saya bisa menjahit sehingga hanya membeli kainnya saja lalu membuatnya sendiri. Jadi, nanti jika tas-tas tersebut sudah selesai saya buat, insya Allah, akan memulai Istiqomah untuk menggunakannya ketika pergi belanja ke pasar. Tas tersebut bisa dicuci ulang jika sudah kotor atau mungkin saja basah karena tetesan air dari ikan segar di dalam kotak plastik food grade. Berbeda saja kalau ke pasar  tidak membawa tas kain. Pasti jika pulang membawa banyak tas kresek di rumah. Alangkah menyedihkan jika pola seperti ini tidak segera dihentikan. Kasihan dengan bumi yang sudah mulai menua.

Pada saat pertama kali membawa tas kain dan kotak plastik ke pasar, mungkin akan terkesan ribet. Tapi jika ini saya tekuni, pastilah hidup akan lebih nyaman tanpa sampah lagi. Tidak ada tumpukan tas kresek lagi di rumah. Koleksi plastik di rumah saya, masih banyak. Ada yang saya gunakan untuk tempat membuang sampah berupa plastik dan kertas saja. Sedangkan sampah organiknya saya masukkan di juglangan sebagai komposter. Tas kresek yang sobek- sobek, dipotong kecil-kecil dan dibuat ecobrick. Pengalaman berzerowaste yang sudah saya praktikkan sendiri adalah membuat eco enzyme dari kulit jeruk peras. Orange juice adalah minuman favorit saya. Supaya kulit jeruknya tidak masuk sampah, saya olah menjadi Eco Enzyme. Bahan-bahannya botol plastik kemasan ukuran 600ml, kulit buah, air dan gula pasir. Caranya gampang sekali. Tinggal memasukkan satu per satu kulit jeruknya ke dalam lubang botolnya. Karena saya enggan memotong kulit jeruk menjadi potongan kecil-kecil, kadang-kadang terasa seret atau macet saat memasukkannya ke lubang botol. Kulit jeruknya agak saya pilin supaya mudah masuk ke dalam botol. Setelah itu, beri gula pasir kurleb 3 sdm. Kemudian beri air sampai penuh. Tutup botolnya. Goyang-goyangkan agar tercampur rata. Buka kembali tutup botolnya sebentar agar udaranya keluar. Kemudian tutup lagi. Dan setelah 14 hari siap dipanen. Eco Enzyme ini biasanya digunakan untuk mengepel lantai dan membersihkan kaca jendela rumah. Hasilnya sungguh bersih. Saya sudah membuktikannya. Demikian tulisan singkat saya tentang upaya mengurangi sampah plastik.

@komunitas.odop
#tantangan1
#odopbatch7
#weekend
#odop
#daretodare
#satnit
#holiday
#challenge

1 komentar:

  1. Terakhir saya kira lagi baca di Instagram soalnya ada hesteknya. Hehe. Waaaaah semangat ber-zerowaste. Saya selalu senang mendengar dan membaca cerita hijrah orang-orang menuju nol sampah. Semoga istikamah mbaknya. Saya masih sulit istikamah karena sering banget pesan jus via ojol dan berakhir punya banyak sampah plastik. Yah jadi curhat.

    BalasHapus