5. Kegagalan Adalah Awal Dari Kesuksesan
Saat ibunya membuka Raport milik Lina, hasil semua nilai Lina memang tidak memuaskan. Ibunya Lina bersikap sangat bijaksana dan memberikan motivasi kepada Lina agar di semester depan Lina bisa memperbaiki nilanya yang kurang tersebut. Putus asa dan bersedih terlalu lama bukan solusinya. Masih ada kesempatan untuk mengejar nilai, “begitulah nasihat Ibu kepada Lina.”Lina hanya mengangguk pelan menerima nasihat dari ibunya. Perlahan-lahan, ia menutup Raport bersampul oranye tersebut.
Di semester pertama, Lina mendapat peringkat terakhir dari 43 siswa. Tetapi Lina tetap tegar. Pak Tarno yang membaca raut wajah kesedihan di wajah muridnya tersebut, mencoba mendekatinya. Beliau berkata kepada Lina agar ia tidak usah minder dengan hasil nilai Raportnya tersebut. Jadilah anak yang rendah hati saja, jangan rendah diri. Begitulah pesan yang disampaikan pak Tarno kepada Lina. Lina menggangguk saja sambal tersenyum kepada gurunya tersebut.
Lina menjadi anak yang rajin beribadah shalat lima waktu, ditambah dengan shalat tahajud di sepertiga malam. Ibunya menuntun Lina agar kembali ke jalan yang benar dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Lina juga rutin mengaji secara privat bersama adik perempuannya dengan dibimbing oleh ustad yang dipanggil ibunya di rumah. Selain berdoa dengan khusyuk, Lina juga belajar dengan tekun disaat pagi, siang dan malam hari. Semua waktunya diisinya dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat.
Alhamdulillah Lina sudah mulai menyenangi dengan lingkungan, teman-teman dan para guru di sekolahnya. Ia mulai kerasan di sekolah. Bapak dan ibu gurunya Lina banyak membantu Lina agar semangat lagi dalam belajar. Diberinya kesempatan Lina untuk mengulang ujian mata pelajaran yang nilainya kurang agar menjadi bagus. Hari-hari Lina yang padat, membuat ayah dan ibunya Lina memberikan makanan yang bergizi di rumah. Meski sudah sembuh dari stres, Lina masih diwajibkan control dan meminum obat agar ke depannya tidak kambuh lagi. Sehingga Lina bisa sembuh total dari stres-nya tersebut.
Selain Nisa, Zora adalah sahabat Lina saat di SMA. Zora anak guru di sekolah itu. Parasnya manis dan postur tubuhnya tinggi semampai seperti Lina. Semenjak prestasi belajarnya di sekolah menurun, Lina memutuskan hubungan dengan cowoknya si Cecep. Lina Hanya ingin berteman baik saja dengannya. Fokusnya hanya untuk belajar, belajar dan belajar. Tidak lebih dari itu. Untungnya si Cecep bisa menerima keputusan Lina dengan lapang dada.
Agar tidak bersedih lagi dan jatuh sakit, ibunya Lina membelikan apa saja yang diminta oleh Lina asalkan permintaan itu wajar dan sesuai kemampuan. Lina dibelikan jaket jeans tebal yang bagus, buah-buahan dari bahan kayu yang bagus dan diberikan fasilitas berlangganan majalah remaja seperti Aneka yess atau Gadis. Semua itu dilakukan ibunya Lina dengan penuh kasih sayang. Berharap putrinya bisa merasakan kasih sayang kedua orangtuanya tersebut. Membaca majalah remaja, hanya dilakukan oleh Lina disaat dia mulai jenuh dalam belajar.
Sehari sebelum penerimaan Raport semester kedua, ibunya Lina mendatangi rumah pak Tarno untuk menanyakan perkembangan putrinya tersebut. Pak Tarno dengan ramah mempersilakan ibunya Lina untuk duduk di ruang tamu. Sayangnya perbincangan sesaat itu, tidak membuahkan hasil yang melegakan. Pak tarno bungkam seribu basa dan menyarankan ibunya Lina untuk melihat sendiri nilai Raport Lina esok hari. Padahal maksud ibunya Lina, ibunya hanya ingin bertanya saja apakah Lina naik kelas atau tidak. Tetapi pak Tarno bersikeras tidak mau berkata sepatah katapun. Dengan wajah sedikit muram ibunya Lina berpamitan pulang dan memilih bersabar sambal berdoa di rumah agar putrinya naik kelas.
Hari itu penerimaan Raport semester kedua, Lina Bersama ibunda-nya datang ke sekolah memenuhi panggilan pak Tarno. Di dalam kelas, rupanya sudah berkumpul beberapa wali murid. Seperti tradisi di sekolah itu. Disaat Penerimaan raport, murid-murid berada di luar sekolah menanti orang tua mereka masing-masing selesai mengambil Raport dan menerima pengarahan dariwalikelas masing-masing. Siswa kelas 10 di sekolah itu berjumlah hampir 350 orang. Terdiri dari delapan kelas.
Tiba-tiba saja, saat keluar dari pintu kelas, Lina melihat wajah ibunya nampak tersenyum sumringah dan bahagia. Lina segera mendekati ibunya dan menanyakan bagaimana nilai Raportnya itu. Alhamdulillah, Lina naik kelas ke kelas 11 dan mendapat peringat yang memuaskan yaitu peringkat sepuluh besar. Pak Tarno memberitahukan berita gembira tersebut kepada semua murid-muridnya. Semua teman-teman Lina bersalaman kepadanya untuk memberikan ucapan selamat kepada Lina. Kepercayaan dan harga diri Lina akhirnya bangkit kembali. Semua kejadian demi kejadian telah memberikan banyak hikmah dalam kehidupan Lina. Lina menjadi anak yang shalehah dan taat sama orang tua. Setiap manusia di dunia ini, pasti akan mengalami ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hanya hamba yang menjadikan shalat dan sabar sebagai penolongnya, yang akan meraih kemenangan.
~ The end ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar