Minggu, 20 Januari 2019

Ibu Profesional Nurturing Family

Anakku Guru Kehidupanku

Aku seorang ibu rumah tangga dengan seorang putri yang menginjak akil baliq. Ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan disaat aku berusaha untuk membesarkan dan mendidik putriku ini. Dengan seizin suami, aku membeli buku-buku parenting. Dan menurutku, semua ilmu tentang cara mendidik anak yang ditulis di buku-buku parenting koleksiku, semua-nya memberikan cara yang baik dalam pola asuh terhadap anak. Harus aku akui, belum semua buku-buku parenting tersebut aku baca. Hanya membaca sekilas saja. 

Berdasarkan pemikiranku, dengan menimba ilmu parenting saja seperti yang aku jalani sekarang ini belumlah cukup. Kurasakan masih ada yang kurang. Saat aku membaca sebuah kasus antara ortu dan anak berikut solusinya, disaat aku menghadapi kondisi yang sama tapi sungguh mengherankan jika ternyata solusi yang diberikan di buku parenting kadang tidak bisa diterapkan pada kondisi putriku. Aku baru menyadari bahwa manusia itu berbeda karakter. Demikian juga putriku dengan diriku, pasti tidak akan sama kepribadiannya. Ada yang lebih penting lagi buat aku sebagai ortu di zaman milenial ini. Berdoa adalah senjata yang ampuh untuk mendidik anak agar bisa menjadi generasi yang tangguh.

Aku dan suami dalam mendidik putri kami berusaha untuk selalu kompak. Namun, tak jarang kami saling berselisih paham. Buatku itu hal biasa karena kami memang dari latar belakang dan sifat yang berbeda. Tapi kami saling melengkapi kekurangan masing-masing. Jika kami berselisih paham tentang cara mendidik putri kami, kami selalu berdiskusi saat putri kami tidak ada. Sehingga kami bisa dengan tenang membicarakan maksud dari pendapatnya masing-masing.

Intinya, kami berusaha kompak dalam urusan pendidikan anak. Diantara kami berdua, akulah yang lebih sering mendatangi seminar parenting. Tentunya disesuaikan dengan budget yang ada. Semua ilmu parenting yang pernah aku dapat baik melalui buku-buku, seminar-seminar online/offline, tidak semuanya cocok diterapkan kepada putriku. Aku bisa menerimanya. Toh, masih ada beberapa ilmu parenting yang berguna untukku.

Saat ini, putriku berusia 11 tahun. Usia yang katanya banyak orang lagi peralihan dari masa kecil menuju masa pra akil balig. Makanya kadang sebagai ibu aku harus memaklumi jika ia masih suka marah-marah. Tapi jika sudah kelewat batas, tentu sebagai ortu aku nggak tinggal diam. Pasti dia aku beri nasihat. Sifatnya yang kadang membuatku merasa jengkel, tak pelak membuatku jadi susah untuk mengontrol diri. 

Disaat aku marah khususnya terhadap anak, aku selalu mengikuti nasihat ibuku, yaitu duduk tenang sambil beristigfar. Ibuku selalu berpesan seperti itu. Aku nggak boleh diam saja. Sebagai seorang muslimah, aku punya Allah SWT. Berdoa kepada-Nya memohon kesabaran dan ketenangan. Jika emosi masih ada, berwudhu dan shalat. Tujuannya adalah agar aku bisa mengerem mulut ini agar tidak melantur kemana-mana. Jadi alangkah baiknya jika sedang marah kita mengambil wudhu kemudian shalat dan berdzikir.

Banyak suka duka sudah aku lalui saat mendidik putriku dimulai sejak dalam kandungan sampai saat ini. Aku dan suami selalu bahu-membahu dalam menerapkan pengasuhan kepada putri semata wayang kami. Kadang-kadang, putri kami masih suka menunjukkan sifat manja-nya kepada kami, minta perhatian yang lebih dan lain sebagainya. Kalau masih dalam taraf wajar tentu kami bisa memakluminya. Kita sebagai orangtua memang harus perhatian dan penuh kasih sayang kepada anak.

Putriku mempunyai sifat yang agak istimewa. Istimewanya itu bahwa dia tidak bisa dikasar oleh kami orangtuanya. Jadi seandainya dia berbuat salah, dia tidak mau langsung disalahkan begitu saja. Pada awalnya aku sempat dibuatnya bingung. Nih anak dikasar marah, dilembutin juga nggak bisa. Bagaimana ini? Yang aku lakukan kemudian adalah fokus berdoa memohon kepada Allah SWT agar aku  diberi kesabaran sehingga tidak gampang terpancing emosi saat putri ku sedang marah. Disaat aku berdoa, pikiranku menjadi tenang. 

Disaat kepala dalam keadaan dingin, disitulah aku berusaha untuk muhasabah diri.  Merenungi diri apakah aku sebagai ibu sudah benar caraku menghadapi putriku. Memang sulit mengontrol diri disaat emosi kita sedang memuncak. Tapi aku tidak putus asa. Sebagai ibu di zaman now, aku nggak mau kalah dengan putriku. Aku ingin menjadi ibu yang selalu dirindukan oleh putriku, bisa bersahabat dengan putriku itulah yang terpenting, dan bisa kreatif. Anak zaman now, lebih kreatif dari ibunya.


Di dalam keluarga kecil kami, aku, suami dan putri kami, dalam sehari pasti ada waktu santai buat kami bertiga. Kami berkumpul dan saling ngobrol asyik. Disaat itulah aku harus bisa menjadi ibu yang baik buat putriku. Kudengarkan dia bercerita tentang apa saja yang ia sukai. Aku tatap ia dengan penuh perhatian. Aku dengarkan dia dengan penuh semangat dan hanya sesekali saja aku menimpali pembicaraannya. Disaat itulah, aku melihat wajah putriku berbinar-binar seolah dia telah mendapatkan partner bicara yang mengasyikkan yaitu ibunya sendiri. 

Saat aku bersikap lembut kepada putriku, aku merasa putriku menjadi mudah menerima nasihatku. Aku bersyukur sekali. Kadang aku masih sering diingatkan oleh putriku. Jika dia sedang berbicara, dia meminta aku agar mau memperhatikannya dan tidak sambil memegang HP. Dia merasa jika aku memegang HP saat dia berbicara, dia menilai aku hanya lalu saja alias nggak serius mendengarkan pembicaraannya. Buatku, itu kritik yang baik meskipun iti dilakukan oleh putriku sendiri. Dia membuatku menjadi ibu yang harus selalu belajar menjadi ibu yang baik bukan ibu yang sempurna karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini kecuali malaikat.

#IbuProfesionalAsia
#1stAnniversaryIPAsia




~Tulisan ini diikutkan Sayembara Menulis yang diadakan oleh Ibu Profesional Asia dengan tema  " Ibu Profesional Nurturing  Family ".




4 komentar:

  1. Anak-anak memang selalu jadi guru terbaik

    BalasHapus
  2. Masha Allah, semangat kak. Saya pernah dengar quote, bahwa menjadi orang tua adalah pekerjaan seumur hidup, semoga Allah Subhana Wa Ta'ala senantiasa merahmati keluarga kakak😊

    BalasHapus
  3. Ke nih, udh jadi ibu tapi tetap ikut sayembara menulis. Jdi panutan buat yg muda 😊

    BalasHapus
  4. Makin banyak baca makin banyak tau...ngebaca postingan mba...nambah ilmu..kalo nanti jadi orang tua bisa nerapkan cara kayak gni

    BalasHapus